CIAMIS,- Anggota
Dewan dari Partai Amanat Nasional (PAN) sekaligus anggota Komisi IV DPR RI, Ir.
H Herry Dermawan memuji langkah Presiden terpilih Prabowo Subianto dalam membangun
sektor pangan nasional.
Menurutnya,
pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Pangan menjadi langkah strategis
untuk mewujudkan swasembada pangan di Indonesia.
Ia
menyebut Prabowo memiliki visi besar dalam membangun ketahanan pangan nasional,
fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan kecukupan pangan dalam negeri
melalui koordinasi lintas sektor yang lebih terpusat.
“Prabowo
punya ide brilian, yaitu swasembada pangan. Baru sekarang ada Kemenko Pangan
yang khusus mengurusi pangan supaya lebih fokus,” katanya.
Ia
juga menilai Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) berhasil
menjalankan tugasnya. Salah satu indikator yang disebut adalah stok beras
nasional yang diklaim mencapai surplus lebih dari 5 juta ton dan dikuasai
negara.
“Biasanya
stok hanya 1 sampai 2 juta ton dan sebagian berasal dari impor. Sekarang kita
sudah punya sendiri,” kata Herry.
Selain
beras, ia menyoroti perbaikan distribusi pupuk subsidi. Sebelumnya distribusi
pupuk membutuhkan proses birokrasi panjang hingga 125 tanda tangan dari
berbagai tingkatan pemerintahan.
Namun
kini proses tersebut dipangkas menjadi hanya tiga tanda tangan.
“Dulu
pupuk baru sampai ke daerah sekitar April. Sekarang tanggal 1 Januari petani
sudah bisa mendapatkan pupuk,” jelasnya.
Ia
juga mengklaim harga pupuk saat ini mengalami penurunan meski produksi tetap aman.
Bahkan, menurutnya, sejumlah negara seperti Australia sempat meminta pasokan
pupuk dari Indonesia akibat krisis pupuk global dampak perang.
Di
sektor perkebunan, ia menyebut pemerintah berhasil mengamankan sekitar 5 juta
hektare lahan sawit dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
Tak
hanya itu, pemerintah juga disebut tengah mengembangkan program kampung nelayan
modern. Program tersebut mencakup pembangunan fasilitas seperti pabrik es,
bengkel kapal, docking, hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).
“Tahun
lalu ada 200 kampung nelayan, tahun ini targetnya 1.000 kampung nelayan,” tegasnya.
Terkait
kesejahteraan petani, ia menyinggung kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) yang
disebut meningkat dari kisaran 102–104 pada 2004 menjadi 125 saat ini.
“Kalau
NTP 125 berarti petani memiliki keuntungan sekitar 25 persen,” katanya.
Ia
juga menjelaskan bahwa tingginya harga beras saat ini berkaitan dengan
kebijakan menjaga harga gabah petani tetap stabil diangka Rp6.500 per kilogram.
“Kalau
harga beras diturunkan terlalu jauh, petani yang akan protes karena harga gabah
ikut turun,” katanya.
Menanggapi
kritik terhadap kinerja Kemenko Pangan, ia meminta para pengkritik untuk
mempelajari data terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. (EDA)*




0 Comments