KDM Jangan Hanya Berkomentar di Medsos, Datang ke Cirahong

ciamiszone.id :

CIAMIS,- Kritik tajam terhadap sikap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) disampaikan Ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis, Ahmad Himawan atau yang akrab disapa Mas Ahim yang juga sebagai salah seorang perangkat di Desa Pawindan, yang membawahi wilayah Jembatan Cirahong.

“Awalnya kami Desa Pawindan tidak berharap konten Jembatan Cirahong ini ditanggapi terlalu serius, karena pada kenyataannya di medsos dan di lapangan sangat berbeda. Di medsos dianggap pungutan sementara di lapangan biasa saja. Kami tidak menyangka Gubernur ikut berkomentar, sekarang karena sudah terlanjur Gubernur ikut berkomentar, justru berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di lapangan, maka kami warga desa juga para penjaga sangat berharap kepada gubernur kembali membuat statment atau meluruskan, kami menunggu Pak Gubernur di Jembatan Cirahong untuk melihat kondisi yang sebenarnya, jangan hanya berkomentar di medsos,” katanya Minggu (05/04/2026).

Menanggapi rencana pemasangan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) di Jembatan Cirahong, menurut Ahim sama sekali tidak menyentuh akar masalah, karena penjaga di Cirahong tidak hanya menjaga lalu lintas tetapi lebih dari itu, para petugas menjaga keamanan secara umum.

Dijelaskan, di lokasi Jembatan Cirahong itu rentan terjadi tindak kejahatan, di lokasi tersebut sangat sepi, sangat beresiko terhadap tindakan kejahatan, dan juga sering digunakan menjadi tempat untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri dan para penjaga inilah yang biasanya menjadi penghalau dan menjaga keamanan serta kondusifitas.

“APILL ini merupakan sebuah alat, tentu saja tidak bisa berperan sebagai penghalau atau penjaga keamanan di daerah rawan tersebut seperti halnya manusia, apabila ada yang jatuh dan terperosok atau sekedar bersenggolan kendaraan di tengah jembatan APILL tidak akan bisa membantu seperti para petugas,” tegas Ahim.

Diakuinya, dampak sosial yang akan terjadi terhadap penjaga pintu Cirahong yang jumlahnya lebih dari 40 keluarga yang secara bergantian  tidak sesederhana itu.

“Saya mengkritisi bagaimana pemerintah memang harus hadir untuk mengatur banyak hal, tetapi saya kira pemerintah tidak juga harus hadir pada hal-hal yang sudah tertata rapi dan juga sebenarnya tidak pernah menimbulkan gejolak selama berpuluh tahun. Jadi lebih baik pemerintah membuat aturan dan mengurusi hal-hal lain daripada mengatur yang sudah sudah menjadi tradisi, sudah sudah tertata rapi dan sejauh ini saya kira tidak ada masalah kecuali yang memposting dan memviralkan tanpa bertanggungjawab, dan ini tentu saja mengganggu kondusifitas warga lokal di daerah perbatasan Ciamis dan Tasikmalaya,” jelasnya.

Menurut Ahim, dirinya juga merupakan pengguna jalan merasa peralatan apapun tidak bisa menggantikan dan tidak akan bisa lebih baik dari manusia yang menjaga pintu jembatan.

Ditegaskan, yang terjadi di media sosial tidak selalu sama dengan di dunia nyata dan untuk bersikap lebih tepat tidak hanya cepat, maka kita harus melihat langsung ke lokasi dan yang terjadi sebelumnya baik-baik saja tidak seperti yang digambarkan di media sosial.

“Saya berharap Pa Gubernur bisa datang dan mengecek langsung ke sini daripada hanya mematntau media sosial dan di media sosial komentarnya juga 90% saya kira bisa mendukung tradisi yang sudah berjalan,” katanya. (EDA)*


Post a Comment

0 Comments