CIAMIS,-
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan budaya Milangkala Tatar Sunda
dngan tema “Nyuhun Bahun Nata Nagara” sebagai upaya mengangkat kembali sejarah napak
tilas Pajajaran dan sekaligus meningkatkan daya tarik wisata.
Jelang
peringatan hari lahir Tatar Sunda ke-1.357 tahun ditetapkan tanggal 18 Mei itu
Kirab Binokasih yang digagas Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi tiba di Tatar Galuh
Ciamis tepatnya di patilasan Raja Galuh, Sribaduga Maharaja (Prabu Siliwangi), Astana
Gede, Kecamatan Kawali, Minggu (03/05/2026).
Tiba
di tanah kelahiran Prabu Siliwangi, Mahota Binokasih diarak diatas kereta kencana
yang diwarnai dengan helaran kesenan dari 27 kabupaten/kota yang melibatkan 600
pelaku seni budaya.
Menurut
mantan Kepala Dinas Pariwisata Ciamis, Budi Kurnia pertunjukan yang menampilkan
Mahkota Binokasih sebagai simbol penting peninggalan Kerajaan Sunda.
“Mahkota
Binokasih ini sudah diuji di laboratorium ternyata memiliki kandungan emas
sekitar 18,8 karat dan diperkirakan dibuat pada abad ke-14, sekitar tahun
1370-an,” katanya, Senin (04/05/2026).
Budi
Kurnia yang juga Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jabar itu menjelaskan, secara
historis mahkota tersebut pernah berada di wilayah Kerajaan Galuh sebelum
akhirnya kini tersimpan di Sumedang.
“Faktanya
hari ini mahkota itu ada di Sumedang, meskipun sebelumnya sempat berada di
Galuh dan kemudian berpindah,” katanya.
Kegiatan
ini terinspirasi dari kejayaan Kerajaan Pajajaran dan dilaksanakan melalui
kirab budaya yang melintasi sejumlah daerah di Jawa Barat. Pemerintah menilai
kegiatan ini efektif menarik kunjungan masyarakat.
“Kalau
jalannya sudah bagus, alamnya indah, tapi tidak ada orang yang datang, maka
tidak ada manfaatnya. Karena itu, kami hadirkan event agar orang tertarik
berkunjung,” ujarnya.
Menurutnya,
kegiatan tersebut terbukti berdampak pada peningkatan kunjungan. “Di beberapa
daerah seperti Sumedang dan Ciamis, hotel dan homestay penuh selama kegiatan
berlangsung,” katanya.
Selain mendorong pariwisata, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan identitas budaya. Jawa Barat memiliki keragaman budaya yang tinggi, namun belum sepenuhnya terkemas sebagai identitas yang kuat.
“Jawa
Barat itu seolah seperti beberapa provinsi dalam satu wilayah. Bahasa dan
kulinernya berbeda-beda disetiap daerah. Ini kekayaan yang harus diangkat,” katanya.
Dalam
kesempatan yang sama, juga disampaikan rencana penetapan 18 Mei sebagai Hari
Jadi Tatar Sunda. Tanggal tersebut merujuk pada perubahan dari Kerajaan
Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda pada tahun 669 M oleh Tarusbawa.
“Ini
bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi bagaimana kita mengingat bahwa kita
pernah memiliki peradaban yang besar dan sistem yang baik,” jelasnya.
Ditegaskan
Budi, kedepan Napak Tilas Pajajaran direncanakan menjadi agenda tahunan.
Pemerintah berharap kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan sejarah Sunda,
tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, termasuk filosofi hidup
yang menekankan harmoni dengan alam. (EDA)*




0 Comments