ciamiszone.id :
CIAMIS,- Dengan kemampuan produksi yang mencapai 2,5 ton per harinya, fasilitas kandang ayam petelur modern milik Pasini Naratas Farm (Naratas Layer Farm) kini siap memenuhi kebutuhan pasokan telur segar bagi masyarakat Kabupaten Ciamis. Kehadiran peternakan berteknologi mutakhir ini memastikan rantai distribusi yang jauh lebih singkat, sehingga konsumen di Tatar Galuh dapat menikmati telur dengan tingkat kesegaran maksimal sekaligus mendukung langkah strategis pemerintah daerah dalam memutus ketergantungan pasokan dari luar kota.
Komisaris Pasini Naratas Farm, Hary Adam, S.E., menjelaskan bahwa komitmen perusahaannya terhadap penggunaan teknologi terbaru menjadi alasan utama pemilihan fasilitas ini sebagai laboratorium vokasi. Menurutnya, pemanfaatan teknologi modern sangat krusial untuk menjawab tantangan peningkatan ketahanan pangan di masa depan dengan harga yang efisien dan kualitas yang terjaga.
"Jadi alhamdulillah kita dipilih menjadi salah satu laboratorium vokasi karena Naratas Group ini komit dengan teknologi terbaru. Setiap ada teknologi baru, kebetulan kita pengembangan, kita pasti menggunakan," ungkap Hary Adam setelah acara Syukuran Kandang Layer ke 2 Naratas Group, Rabu (07/10/2026).
Ia menambahkan bahwa sistem kandang modern mampu merekayasa suhu dan kecepatan angin untuk mendekati habitat ideal ayam, terlepas dari cuaca atau ketinggian lokasi.
"Apabila semakin ideal kebutuhan akan habitat ayam itu, maka produksi semakin baik. Apabila produksi semakin baik, otomatis efisiensi harga pokok produksi juga menurun," terangnya.
Kandang yang saat ini beroperasi memiliki kapasitas optimal sebanyak 43.200 ekor ayam dan dikawal oleh sistem quality control dari tenaga profesional bersertifikasi. Berkat sistem budidaya yang tertata dan ramah lingkungan ini, Pasini Naratas Farm berhasil menjadi pionir di Ciamis dengan meraih Nomor Kontrol Veteriner (NKV) Level 1.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Ciamis, Dr. Drs. A. Wahyu Radityananto, M.Si., sangat mengapresiasi pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa sertifikasi NKV Level 1 membuktikan standar kualitas tinggi yang bahkan telah memenuhi spesifikasi untuk pasar ekspor.
"Ya, kita menangkan SOB-nya itu karena mereka ini sudah keluar NKV, Nomor Kontrol Veteriner. Ini sudah level 1, berarti sudah bisa ekspor. Nanti tinggal mau pangsa-pangsanya mau ke mana, itu manajemen pas ini," ujar Anton.
Lebih lanjut, Anton menyebut bahwa kehadiran fasilitas berskala besar yang mampu memproduksi hingga 2,5 ton telur per hari per kandangnya ini menjadi bagian dari strategi Ciamis untuk mandiri secara pasokan. Ke depan, Pemkab Ciamis menargetkan untuk menyetop ketergantungan pasokan telur dari luar daerah.
"Ya, kalau secara garis besar kita ingin memutus rantai pasok dari Blitar. Kita tidak seperti daerah lain yang melakukan MoU dengan Blitar. Kita menolak karena yakin kebutuhan akan tercukupi," tegasnya.
Anton juga memastikan bahwa kehadiran telur produksi Naratas Farm tidak akan mematikan peternak rakyat berskala kecil. Hal ini dikarenakan hasil panen dari Naratas Farm akan disortir secara khusus untuk memenuhi permintaan pasar modern—seperti supermarket—yang mewajibkan masuknya telur dengan standar NKV.(Eda)*




0 Comments