CIAMIS,- Seorang pemuda bernama Viko asal Rancah, Kabupaten Ciamis baru saja menuntaskan ekspedisi keliling 17 negara selama 17 bulan. Dalam perjalanannya ia mengibarkan bendera Merah Putih dan berhasil menyelesaikan hafalan beberapa ayat Al-Qur'an di setiap perhentian.
"Saya prepare semuanya dari mulai birokrasi yang saya tempuh, dari mulai uang yang harus saya simpan, karena memang saya sadar ini ekspedisi bukan ekspedisi biasa, sama termasuk riset jalur, dan visa juga sebelumnya sudah saya siapkan,"katanya.
Ia mengaku perjalanan ini tidak akan berjalan tanpa dukungan warga. Ia juga berterimakasih atas dukungan dari warga Ciamis.
“Dan alhamdulillah, tentu saja saya sangat banyak berterima kasih kepada warga Ciamis umumnya, khususnya untuk warga Rancah dan warga Jawa Barat. Dan saya merasakan juga banyak dukungan dari 17 negara dan seluruh dunia," tegasnya.
Dengan ekspedisi ini, ia berharap bisa mengangkat nama daerah dan mengharumkan nama indonseia.
“Kalau untuk 17-17-17 bulan sama 17 negara, itu tidak direncanakan. Karena emang border to border itu biasanya negara ini yang tidak mungkin ter-skip. Terjadilah 17 negara dengan durasi 17 bulan ini dihitung daripada pulang," jelasnya.
Perjalanan pulang sempat dialihkan karena situasi di Timur Tengah. "Tetapi jalan pulang ini saya dari Thailand sebetulnya, karena di Middle East sudah tidak boleh jalan. Jadi terbang ke Thailand, terbang jalan ke Malaysia terus," katanya.
Momen
paling berkesan baginya adalah sambutan masyarakat dan kesempatan bertemu tokoh
dunia.
“Yang sangat berkesan sudah jelas, antusiasme masyarakat dalam perjalanan, khususnya di Uzbekistan. Dan alhamdulillah, saya pun bertemu dengan Presiden Turki, Presiden Erdogan, wasilanya diundang daripada Wali Kota Sile Istanbul, terus diwawancara dengan TV Uzbek dan TV-TV dunia, begitu pun terakhir kemarin daripada New Street Times, NST Malaysia," ungkapnya.
Ia juga memanfaatkan perjalanan untuk mempromosikan budaya lokal. "Dan alhamdulillah, disitu saya bisa mengkampanyekan kearifan lokal yang ada di Kepopatian Ciamis," katanya.
Selama di 17 negara, ia membawa bendera Merah Putih berdampingan dengan bendera negara setempat. "Contoh misalkan saya masuk ke Malaysia, itu ada bendera yang master, yang besar, yang sebelahnya bendera Indonesia, yang sebelah Malaysia. Sepanjang 17 negara yang saya lewati itu konsepnya seperti itu. Itu menandakan bahwasannya kami ingin bersaudara, Indonesia di mata dunia," ujarnya.
Di akhir ekspedisi, ia juga mendapat kabar menggembirakan. "Dan alhamdulillah saya pun dapat hadiah haji di tahun 2026 kemarin," pungkasnya. (Eda)*



0 Comments