CIAMIS,- Program
Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) di Kabupaten
Ciamis diharapkan menjadi salah satu langkah konkret memperkuat literasi
keuangan, meningkatkan kecakapan digital masyarakat, sekaligus membangun
generasi yang cerdas, bijak memanfaatkan teknologi, dan siap menyongsong
Indonesia Emas 2045, namun hal itu dicederai dengan meningkatnya kasus
kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak.
Hal
itu diungkapkan Bupati Ciamis, Dr H Herdiat Sunarya dalam sambutan kegiatan
Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) di Aula Setda
Ciamis, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya,
selain persoalan ekonomi digital, juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap
meningkatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak.
Ia
menyebut sepanjang 2025 tercatat sebanyak 83 kasus kekerasan dan pelecehan
seksual terhadap anak di Kabupaten Ciamis.
"Kasusnya
memang hanya 83, tetapi korbannya bisa mencapai ratusan anak," katanya.
Ditegaskan,
yang lebih memprihatinkan, mulai ditemukannya kasus pelecehan seksual sesama
jenis yang melibatkan anak-anak usia sekolah.
"Baik
di tingkat SMA, SMP bahkan SD sudah terjadi. Dulu kita berpikir LGBT hanya ada
di kota-kota besar. Sekarang, dengan perkembangan teknologi, pengaruhnya sudah
masuk ke daerah. Bahkan sudah ada aplikasi yang digunakan untuk mencari sesama
penyuka hubungan sejenis. Ini harus menjadi perhatian kita semua," jelasnya.
Kondisi
tersebut menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga dan
dunia pendidikan, agar memperkuat pengawasan terhadap penggunaan teknologi
digital oleh anak-anak.
Selain
itu, melalui Program GENIUS, diharapkan para kepala sekolah dan tenaga pendidik
mampu menjadi ujung tombak peningkatan literasi keuangan di lingkungan sekolah.
Ia
menilai pendidikan mengenai pengelolaan keuangan harus diberikan sejak usia
dini agar generasi muda memiliki kemampuan mengambil keputusan finansial secara
bijak ketika dewasa.
"Bapak
dan Ibu guru harus mampu mengajarkan kepada anak didik bagaimana mengelola
keuangan dengan baik sejak dini. Ini bukan hanya soal menabung, tetapi
membentuk karakter dan tanggung jawab dalam menggunakan uang," katanya.
Diakhir
sambutannya, Herdiat mengingatkan cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045
tidak mungkin tercapai tanpa pembangunan sumber daya manusia yang dilakukan
secara terencana.
Menurutnya,
kualitas generasi masa depan harus dipersiapkan sejak dini, termasuk melalui
pemenuhan gizi, pendidikan, karakter, serta literasi keuangan dan digital.
"Kita
mencanangkan Indonesia Emas 2045. Itu tidak bisa instan. Harus dipersiapkan
sejak dalam kandungan, terprogram dan terukur. Karena itu pemerintah terus
mengajak semua pihak mengatasi stunting. Kalau stunting masih menjadi
persoalan, akan sulit melahirkan generasi emas yang berkualitas,"
pungkasnya. (EDA)*



0 Comments