CIAMIS,- Dilihat
dari hasil sensus, menunjukkan mayoritas masyarakat Ciamis masih menggantungkan
hidup dari sektor pertanian, sehingga sektor pertanian masih menjadi tulang
punggung perekonomian Kabupaten Ciamis.
Hal
itu diungkapkan Bupati Ciamis, Dr H Herdiat Sunarya saat menghadiri peringatan Hari
Krida Pertanian (HKP) ke-54 Kabupaten Ciamis di Lapang Desa Sumberjaya
Ciahaurbeuti Ciamis, Senin (13/07/2026).
"Hasil
sensus dari Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 60 persen masyarakat
Ciamis merupakan petani dan buruh tani. Ini berbeda dengan kabupaten atau kota
lain yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai buruh pabrik," katanya.
Menurutnya,
kondisi tersebut menjadi kebanggaan sekaligus modal besar dalam memperkuat
ketahanan pangan daerah. Produksi pangan di Ciamis terus mengalami peningkatan
dari tahun ke tahun.
"Alhamdulillah
ketahanan pangan di Ciamis terus mengalami kemajuan. Untuk beras, beberapa
tahun terakhir kita sudah swasembada bahkan produksinya melebihi kebutuhan
konsumsi masyarakat sehingga bisa dipasarkan ke luar daerah. Daging ayam dan
telur ayam juga sudah swasembada," katanya.
Meski
demikian, Herdiat menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru membuka
peluang pasar baru bagi para petani, terutama komoditas hortikultura.
"Kalau
sayuran dan buah-buahan, kita baru mampu memenuhi sekitar 40 sampai 50 persen
kebutuhan daerah. Selebihnya masih didatangkan dari luar. Ini menjadi peluang
yang sangat besar bagi petani Ciamis. Mudah-mudahan dengan adanya MBG, petani
tidak lagi kesulitan mencari pasar, khususnya untuk sayuran dan
buah-buahan," jelasnya.
Ia
menambahkan, meski kebutuhan pangan meningkat seiring pelaksanaan MBG, produksi
beras dan ikan di Kabupaten Ciamis hingga kini masih berada dalam kondisi
surplus.
Herdiat
juga menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih dihadapi petani, yakni
sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi.
"Dari
tahun ke tahun masalahnya tidak berubah, yaitu langkanya pupuk bersubsidi.
Karena kondisi itu, sekarang banyak petani di Ciamis beralih menggunakan pupuk
organik. Sudah lebih dari 200 hektare lahan sawah menggunakan pupuk organik.
Lebih efisien, lebih mudah, dan hasilnya memiliki nilai jual yang lebih
baik," katanya.
Selain
persoalan pupuk, regenerasi petani juga masih menjadi tantangan. Namun, menurut
Herdiat, saat ini mulai bermunculan petani milenial di berbagai wilayah
Kabupaten Ciamis.
"Petani
milenial memang masih belum banyak, tetapi di Ciamis hampir setiap daerah sudah
mulai muncul. Ini menjadi harapan bagi keberlanjutan sektor pertanian ke
depan," ucapnya.
Di
sisi lain, transformasi pertanian menuju mekanisasi juga terus berkembang.
Berbagai bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat
telah disalurkan ke sejumlah desa di Kabupaten Ciamis.
Herdiat
mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk KTNA Kabupaten Ciamis yang
tetap konsisten menyelenggarakan Hari Krida Pertanian meski tahun ini tidak
menerima bantuan hibah dari pemerintah daerah.
"Saya
mengucapkan terima kasih kepada Ketua KTNA dan seluruh jajaran yang tetap
konsisten melaksanakan HKP meskipun tanpa hibah dari pemerintah. Ini
menunjukkan komitmen untuk terus memberikan edukasi dan penyuluhan kepada para
petani," katanya seraya mengingatkan pentingnya menyiapkan generasi muda
untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
"Target
Indonesia Emas 2045 tinggal sekitar 20 tahun lagi. Itu tidak bisa dicapai
secara instan, tetapi harus dipersiapkan mulai sekarang melalui perencanaan
yang matang, termasuk menyiapkan generasi penerus di sektor pertanian,"
pungkasnya. (EDA)*





0 Comments