CIAMIS,- Kampung
Angklung di Desa Panyingkiran, Kabupaten Ciamis, semakin dikenal oleh dunia
sebagai destinasi wisata edukasi dan budaya. Hal itu terlihat dari kunjungan
sejumlah wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat langsung proses
pembuatan angklung sekaligus memainkan alat musik tradisional khas sunda
tersebut.
Kedatangan
wisatawan asing difasilitasi Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Badan Promosi
Pariwisata Daerah (BP2D) sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi
wisata budaya Ciamis ke tingkat internasional.
Salahseorang
pengrajin angklung, Nunu mengaku, bersyukur dan bangga Kampung Angklung
mendapat perhatian wisatawan dari berbagai negara.
"Alhamdulillah,
saya sangat bersyukur. Terutama saya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab
Ciamis melalui BP2D yang telah membawa beberapa wisatawan dari berbagai negara
berkunjung ke sini. Kami sebagai pengurus dan masyarakat sangat bangga karena
Kampung Angklung sudah dikunjungi wisatawan mancanegara,” kata Nunu,
(26/07/2026).
Nunu
menjelaskan, di bawah Yayasan Kampung Angklung terdapat lebih dari 10 kelompok
pengrajin dengan jumlah anggota aktif lebih dari 70 orang yang setiap hari
memproduksi angklung.
Menurutnya,
kunjungan wisatawan memberikan dampak positif terhadap peningkatan penjualan
sekaligus promosi Kampung Angklung.
"Dampaknya
sangat terasa, terutama terhadap penjualan. Selain itu, kunjungan wisata juga
semakin meningkat karena promosi dari mulut ke mulut dan media sosial. Apalagi
setelah ada wisatawan asing yang datang, kami optimistis ke depan akan semakin
banyak pengunjung," jelasnya.
Saat
ini, Kampung Angklung mampu memproduksi sekitar 1.000 oktaf angklung setiap
bulan atau hampir 8.000 nada yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Menurut
Nunu, hasil karya para pengrajin Ciamis juga telah lama dipercaya memenuhi
kebutuhan Saung Angklung Udjo di Bandung.
"Sejak
tahun 2010 saya rutin mengirim angklung ke Saung Udjo. Jadi sebenarnya
kebutuhan angklung di sana sudah lama disuplai dari sini. Hanya saja dulu belum
dikenal sebagai Kampung Angklung. Sekarang masyarakat mulai mengetahui banyak
tempat wisata maupun pusat edukasi menggunakan angklung yang berasal dari
Ciamis," ungkapnya.
Untuk
pemasaran, Kampung Angklung melayani pembelian eceran maupun grosir dengan dua
segmen utama, yakni dunia pendidikan dan sektor pariwisata.
Harga
angklung dibanderol mulai Rp25 ribu per nada, sedangkan satu set angklung
lengkap dapat mencapai puluhan juta rupiah, tergantung jenis dan jumlah nadanya.
Nunu
optimistis apabila Pemkab Ciamis merealisasikan program pembuatan angklung
secara massal, para pengrajin siap memenuhi kebutuhan tersebut selama waktu
persiapannya memadai.
Ia
juga memastikan bahan baku bambu masih melimpah karena berasal dari Desa
Panyingkiran dan desa-desa sekitar di Kabupaten Ciamis.
"Alhamdulillah
sampai saat ini kami tidak mengalami kekurangan bahan baku," katanya.
Ia
berharap keberadaan Kampung Angklung terus berkembang sehingga mampu
meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.
"Sejak
tahun 1992, angklung sudah menjadi identitas kampung ini, berawal dari almarhum
Pak Mumu. Kini kami berusaha melanjutkan perjuangan beliau melalui Yayasan
Kampung Angklung agar warisan budaya ini terus lestari," tuturnya.
Salah
seorang wisatawan asal Filipina, Rafael Sandoy dari Mindanao State
University–Iligan Institute of Technology mengaku terkesan setelah melihat
langsung proses pembuatan angklung.
"Saya
sangat senang dapat melihat bagaimana cara membuat angklung. Saya sangat
terkejut," katanya.
Rafael
menjelaskan, dirinya berada di Ciamis melalui program Sistrip Foundation untuk
mempelajari budaya Islam di Indonesia.
"Saya
bergabung dengan Sistrip Foundation untuk belajar budaya Islam. Itulah sebabnya
saya berada di sini," katanya.
Kunjungan
wisatawan mancanegara tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Kampung
Angklung sebagai destinasi wisata budaya unggulan Kabupaten Ciamis sekaligus
memperluas pasar angklung buatan para perajin lokal hingga ke tingkat
internasional. (EDA)*





0 Comments