CIAMIS,- Secara
prinsipil, berdasarkan pantauan selama satu tahun, Kabupaten Ciamis saat ini
merupakan satu-satunya kabupaten dari 514 kabupaten/kota di Indonesia yang
memperoleh nilai tertinggi. Hal itu mendukung Kabupaten Ciamis untuk kembali meraih
penghargaan Adipura.
Hal
itu diungkapkan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Hanif Faisol
Nurofiq, S.Hut., M.P., disela inspeksi mendadak (Sidak) yang meninjau langsung
sistem Bank Sampah Induk, Bank Sampah Unit, TPS 3R, hingga TPST yang ada di
Ciamis, Minggu (01/02/2025).
Seluruh
fasilitas yang dikunjungi tersebut menjadi indikator penilaian nasional yang
diterapkan secara merata di seluruh daerah.
Menurut
Menteri LH, penilaian tidak hanya dilakukan secara kasat mata, tetapi mencakup
berbagai parameter strategis, mulai dari sistem penganggaran, kualitas sumber
daya manusia, hingga ketersediaan dan fungsi fasilitas pengelolaan sampah.
Dijelaskan
Hanif, sidak ini dilakukan berdasarkan Kerangka Penilaian Tata Kelola Sampah
Nasional yang menilai kinerja kabupaten dan kota di seluruh Indonesia selama
satu tahun penuh, termasuk kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Hari
ini, nilai Ciamis adalah yang paling tinggi secara nasional krena itu, Ciamis
sangat potensial mendapatkan reward sebagai kota bersih, atau setidaknya
memiliki potensi kuat meraih Adipura,” tegasnya.
Ditegaskan,
sebelum penghargaan tersebut diberikan, pihak kementerian tetap melakukan
verifikasi lapangan lanjutan, termasuk melalui drone check di sejumlah sudut
kota.
“Di
beberapa sudut kota, kami masih melihat hal-hal yang perlu terus ditingkatkan
oleh Bapak Bupati dan jajarannya. Tapi secara teknis, harus diakui, hampir di
seluruh komponen desa dan masyarakat, budaya memilah sampah sudah berjalan,”
ungkap Hanif.
Bahkan,
dirinya mengaku terkejut saat mendapati rumah-rumah sederhana di pelosok desa
telah melakukan pemilahan sampah dari sumbernya. Sampahnya sudah dipilah dan
warga mengaku sampah tersebut bisa dijual.
Temuan
itu menurutnya, selama melakukan penilaian nasional tidak ditemui di kabupaten
lain.
Meski
demikian, diakuinya masih ada pekerjaan rumah, terutama terkait sampah bernilai
rendah (low value) yang sebagian masih dibakar atau dibuang ke sungai.
“Ini
menjadi tugas Bapak Bupati untuk menyempurnakan. Kami di kementerian sangat
ingin ada satu kabupaten yang paripurna dalam pengelolaan sampah. Masa dari 287
juta penduduk Indonesia, tidak ada satu kabupaten pun yang bisa menyelesaikan
sampahnya secara tuntas?” tegasnya.
Ia
berharap Ciamis dapat menjadi contoh nasional, bahkan menjadi trigger bagi
daerah lain, termasuk kota-kota besar dengan sumber daya yang lebih memadai.
“Kalau
Ciamis bisa, kota-kota yang lebih kaya mestinya jauh lebih bisa. Dari Ciamis,
kita mulai mengurai krisis sampah nasional,” tandasnya.
Menanggapi
hal itu, Bupati Ciamis, Dr. H Herdiat Sunarya mengaku terkejut sekaligus
bersyukur atas kehadiran mendadak Menteri Lingkungan Hidup ke daerahnya.
“Terima
kasih kepada Pak Menteri yang bisa datang langsung ke Ciamis. Jujur, saya kaget,”
katanya.
Diakuinya,
apa yang disampaikan Menteri sepenuhnya benar. Pemerintah Kabupaten Ciamis
masih memiliki banyak keterbatasan, baik dari sisi anggaran maupun sarana
prasarana.
“Kami
baru punya mimpi dan niat Ciamis menjadi kota bersih. Dengan keterbatasan kami,
hampir tidak bisa bergerak secara teknologi atau mesin pengelolaan sampah
karena memang tidak punya anggaran,” jelasnya.
Untuk
itu, strategi utama yang ditempuh Pemkab Ciamis adalah mendorong partisipasi
masyarakat, terutama dengan membiasakan pemilahan sampah dari rumah.
“Kami
hanya bisa mengajak dan mengimbau masyarakat. Itu yang kami lakukan selama
ini,” katanya.
Bupati
Ciamis Herdiat memastikan, kedepan pihaknya akan menindaklanjuti seluruh catatan
dan evaluasi dari Kementerian Lingkungan Hidup, terutama untuk menyempurnakan
pengelolaan sampah bernilai rendah agar Ciamis tidak hanya berpotensi meraih
Adipura, tetapi juga mampu menjadi model nasional pengelolaan sampah
berkelanjutan. (EDA)*




0 Comments