ciamiszone.id :
CIAMIS,– Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ciamis menegaskan bahwa Duta Zakat dan Wakaf bukanlah sekadar tenaga pengepul dana umat. Para duta ini diterjunkan sebagai agen pengubah paradigma sosial, dengan target memutus ketergantungan masyarakat dan rumah ibadah terhadap bantuan pihak luar melalui kekuatan filantropi produktif dan sedekah mikro.
Ketua BAZNAS Ciamis, Lili Miftah, menekankan bahwa edukasi spiritual harus dikedepankan di atas sekadar angka rupiah. Masyarakat perlu didorong untuk beramal atas dasar kepatuhan pada perintah agama, bukan sekadar rasa kasihan.
“Banyak orang datang ke BAZNAS, kami tidak menghimpun uang. Kami mengajak masyarakat untuk melaksanakan rukun Islam yang ketiga. Tugas Duta Zakat yang paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang rukun Islam yang ketiga: zakat, infak, sedekah, dan wakaf,” tegas Lili ,Rabu (30/9/2026).
Lili menyoroti kekuatan sedekah mikro yang sering kali dipandang sebelah mata. Ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas umat dan jaring pengaman sosial tidak selalu membutuhkan nominal donasi yang masif dari segelintir orang.
“Uang seribu bisa menjadi rumah, dan lima ratus perak bisa menolong orang sakit. Inilah pentingnya membangun kesadaran umat,” ungkapnya.
Selain sedekah mikro, transformasi pemahaman masyarakat tentang wakaf juga menjadi agenda kritis. Wakaf tidak lagi boleh dikerdilkan sebatas tanah pemakaman, pesantren, atau wujud fisik masjid, melainkan harus dikembangkan menjadi aset ekonomi yang menghasilkan.
Lili mencontohkan optimalisasi aset di sekitar masjid, seperti pendirian toko yang disewakan. Hasil perputarannya kemudian digunakan untuk menopang seluruh operasional dan kemakmuran masjid tersebut.
“Dengan demikian, masjid bisa menghidupi dirinya sendiri secara mandiri tanpa harus sering mengirim proposal ke pemerintah atau pihak lain,” jelas Lili.
Skema pemberdayaan serupa didorong untuk diterapkan di tingkat desa melalui program infak desa, sehingga masalah-masalah sosial masyarakat dapat diselesaikan secara swadaya. Lili berharap para duta mampu menyampaikan edukasi ini dengan bahasa yang membumi.
“Kalau kesadaran umat sudah terbangun, otomatis hak-hak fakir miskin, kesejahteraan, keadilan akan hadir, dan yang paling mahal adalah keberkahan dari Allah,” pungkasnya.(Eda)*



0 Comments