Bupati Malu, ASN Ngantuk dan Judol

ciamiszone.id :

CIAMIS,- Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya saat memberikan sambutan kegiatan Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) di Aula Setda Ciamis, Rabu (29/7/2026), tiba-tiba menghentikan sambutannya dan menegur sejumlah ASN yang tidak fokus karena mengantuk padahal acara baru saja dimulai pukul 09.00 WIB.

"Jam sembilan sudah pada ngantuk. ASN macam apa ini? Malu. Jangan bikin malu. Nanti difoto media, malu kita semua," tegur Bupati dihadapan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Heri Rafni, para kepala sekolah, tenaga pendidik SD hingga SMA/sederajat dan jajaran pejabat Pemkab Ciamis lainnya.

Teguran itu sontak membuat suasana ruangan berubah. Peserta yang semula tampak kurang fokus langsung memperbaiki sikap.

Menurut Bupati, kedisiplinan ASN tidak hanya diukur dari kehadiran, tetapi juga dari kesungguhan mengikuti setiap agenda pemerintahan.

Setiap kegiatan yang diselenggarakan pemerintah merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik. Karena itu, ASN dituntut menunjukkan profesionalisme dan menjadi teladan bagi masyarakat.

Bupati pun melanjutkan sambutannya dengan menyampaikan apresiasi kepada OJK Tasikmalaya yang telah menginisiasi pelaksanaan Program Gerakan Edukasi dan Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) di Kabupaten Ciamis.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Ciamis menyampaikan terima kasih karena Ciamis dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan program yang dinilai sangat strategis dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui dunia pendidikan.

"Program ini sangat penting, terutama di tengah perkembangan digitalisasi yang semakin pesat. Hampir seluruh aktivitas kehidupan sekarang tidak lepas dari teknologi digital. Karena itu, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara bijak," katanya.

Dijelaskan, kemajuan teknologi telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik manfaat tersebut tersimpan berbagai ancaman yang harus diantisipasi sejak dini.

Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda agar tidak terjebak pada dampak negatif perkembangan teknologi.

Menurutnya, digitalisasi memang memberikan manfaat yang luar biasa besar. Tetapi dampak negatifnya juga sama besarnya.

“Karena itu kita harus mampu memilih dan memilah mana yang bermanfaat dan mana yang harus dijauhi," katanya.

Ditegaskan, rendahnya literasi digital dan literasi keuangan menjadi salah satu penyebab masyarakat mudah tergoda berbagai tawaran yang akhirnya berujung pada persoalan ekonomi maupun hukum.

“Maraknya praktik perjudian online (judol) dan pinjaman online (pinjol) yang kini menjadi persoalan serius,” katanya.

Korban praktik tersebut tidak lagi didominasi masyarakat umum, tetapi telah merambah berbagai kalangan, termasuk aparatur sipil negara (ASN).

"Dampak digitalisasi yang paling terasa sekarang adalah judi online dan pinjaman online. Korbannya bukan hanya masyarakat. ASN juga banyak yang terjerat. Bukan hanya laki-laki, perempuan juga ada," tegasnya.

Karena itu, edukasi keuangan dinilai harus dimulai sejak usia sekolah agar anak-anak memiliki kemampuan mengelola keuangan sekaligus memahami risiko penyalahgunaan teknologi digital. (EDA)*


Post a Comment

0 Comments